Memperingati hari lahir pondok pesantren edi mancoro ke 27 yang bertemakan Mewujudkan peran santri yang berkarakter khodimul umma. serta menjunjung tinggi persaudarana antar santri di kota salatiga-semarang .

 

Hadiri Akhirussanah Pesantren Edi Mancoro, Menteri Hanif Dhakiri Ajak Masyarakat Ramaikan Pesantren

Banyak orang yang meragukan pesantren karena mengira bahwa lulusan pesantren tidak memiliki daya saing yang memadai di dunia kerja. Hal tersebut dibantah oleh Menteri Ketenagakerjaan, Muhammad Hanif Dhakiri, ketika memberikan sambutan dalam acara Haul KH. Muh Sholeh dan KH. Muh Ridwan serta Haflah Akhirussanah yang dihelat di halaman Pondok Pesantren Edi Mancoro, Sabtu (13/5) lalu.

Di hadapan seribuan tamu undangan, wali santri dan masyarakat tersebut, Hanif Dhakiri menyampaikan bahwa hal yang paling utama dan paling dicari dalam dunia kerja adalah soft skill berupa karakter, baru disusul hard skill berupa ketrampilan.

“Ketrampilan itu bisa diasah dan dilatih hanya dalam tiga bulan. Tapi karakter itu butuh waktu bertahun-tahun, dan di pesantren lah karakter itu dipupuk benar-benar. Lulusan pesantren itu justru kompetitif karena karakternya kuat” paparnya.

Lebih lanjut, Menteri yang dulu pernah nyantri di Edi Mancoro tersebut mengajak para masyarakat untuk bersama-sama meramaikan pesantren demi mencetak generasi muda Indonesia yang terdidik dengan karakter dan akhlak yang baik. Sebab pesantren sudah terpercaya dan terbukti sebagai institusi tertua di Indonesia yang telah mendidik rakyat sejak dulu kala.

“Sebelum Indonesia merdeka, pesantren sudah mendidik rakyat, mengajari rakyat untuk beragama dengan benar, untuk bisa bekerja menjadi bagian dari bangsa dan negara yang baik, mengajari hubbul wathon minal iman.” Jelasnya.

Menteri Hanif Dhakiri juga mengingatkan bahwa melalui ulama dan kiai, Islam berada di Indonesia bisa terus berdialog, bisa terus mengisi, dan bersinergi dengan kebudayaan yang ada. Para Ulama mengajarkan umat untuk menjadi muslim yang baik di negara yang plural atau majemuk, yang dipenuhi dengan berbagai perbedaan yang ada. Para ulama mengajarkan umat bahwa fanatisme terhadap Islam itu perlu dan harus, namun mesti diletakkan ke dalam diri, sehingga mewujud dalam serangkaian ibadah yang penuh ketekunan dan keyakinan. Sementara praktik keberislaman yang ke luar, harus mewujud dalam sikap yang penuh keterbukaan, sehingga dengan mereka yang berbeda, muslim tetap bisa hidup berdampingan dengan damai.

“Kita tetap bisa menjadi orang Jawa yang baik, menjadi orang Indonesia yang baik, dan muslim yang baik. Itu semua ajaran para salafus salih.” Paparnya.

Beliau juga mempertegas bahwa Indonesia merupakan berkah bagi semuanya, bagi seluruh warganya, tanpa terkecuali, tidak peduli agama dan sukunya. Dan Nahdlatul Ulama adalah berkah bagi Indonesia, karena NU itulah yang memiliki komitmen dan keistiqomahan untuk terus menguri uri kebudayaan para kiai dan ulama sehingga masyarakat tetap bisa berbangsa dan bernegara dalam keadaan damai dan tentram.

Di akhir sambutannya, Hanif Dhakiri mengajak para hadirin untuk tetap memelihara harapan dan menjaga optimisme agar masyarakat Indonesia mampu menjadi bangsa yang besar. Menurutnya, dengan kerja sama yang baik antara pemerintah, ulama, dan masyarakat, Indonesia bisa menyelesaikan berbagai permasalahan yang tengah dihadapi bangsa ini.

Selain menteri ketanagakerjaan, hadir pula dalam helatan akbar Edi Mancoro tersebut beberapa tokoh publik seperti Mundjirin (Bupati Kabupaten Semarang), Marwan Jafar (Mantan Menteri Desa), Sukirman (Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah), dan Wika Bintang (Kepala Dinas Tenaga Kerja, Kependudukan dan Transmigrasi Kabupaten Semarang). Sementara yang didapuk sebagai pengisi mauidzoh hasanah adalah Romo Kiai Muadz Thohir dari Pati, beliau merupakan pengasuh pondok pesantren Raudhatut Tohirin.

Haflah akhirussanah dan khataman Edi Mancoro yang sudah memasuki angka keenam tersebut, tahun ini mewisuda 15 siswa akhir kelas Ulya, 25 wisudawan khotmil quran binnadhor, dan dua santri tahfidz bilghoib 30 Juz.

Sementara Gus Muhammad Hanif mewakili pesantren Edi Mancoro dalam sambutannya menyampaikan harapan agar para santri kelak dapat menjadi sosok yang bermanfaat sebagai khodimul ummah di tengah-tengah masyarakat.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR